PENGGUNAAN
KOMPUTER DALAM MEMBANTU MENGANALISA TINGKAT PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK TINGKAT
SLTP
Khamim Syafrul Hidayah Aminuddin 12.0301.0029
Program
Studi Bimbingan Konseling, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Kependidikan,
Universitas Muhammadiyah Magelang
Syaf_raul@ymail.com
Abstrak
PENGGUNAAN
KOMPUTER DALAM MEMBANTU MENGANALISA TINGKAT PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK. Program khusus Analisa Tugas
Perkembangan (ATP) adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu
mengolah ITP. Dengan ATP, identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan
dengan mudah, cepat dan menyenangkan.
Kata
kunci:
ITP,
Inventori Tugas Perkembangan (buku soal digunakan untuk mengukur tahap
perkembangan siswa)
ATP,
Analisi Tugas Perkembangan (program komputer dalam CD yang dapat di-instal dan
digunakan dikomputer untuk mengolah ITP)
a.
Latar Belakang
Teknologi informasi dan komunikasi telah dimanfaatkan hampir disemua
bidang. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tersebut tentu sangat menguntungkan
bagi kita. Begitu juga sebagai seorang konselor tentu kita membutuhkan
informasi aktual dan akurat. Selain itu sebagai konselor kita bisa memanfaatkan
teknologi utamanya komputer dalam membantu untuk menganalisa tingkat
perkembangan peserta didik.
Manusia sepanjang hidupnya selalu
mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap
yang saling berkaitan. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan
terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. Untuk mengidentifikasi masalah
perkembangan diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat perkembangan
mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi.
Salah satu instrument yang dapat digunakan
untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP ( Inventori Tugas
Perkembangan). Dengan alat ITP,
pembimbing dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok,
mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta
didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. Proses
penyekoran dan pengolahan ITP dapat dilakukan langsung (tanpa komputer) dengan
bantuan kunci jawaban terlampir. Tentu saja memakan waktu cukup lama dan
memerlukan ketelitian serta ketekunan pemeriksa.
Bersamaan dengan penyusunan ITP telah dikembangkan pula program komputer
khusus yang diberi nama ATP (Analisis Tugas Perkembangan). Program ini
digunakan untuk menyekor, mengolah, dan mencetak hasil analisi ITP, baik dalam
bentuk angka grafik, maupun daftar. Dengan demikian telah tersedia ITP yang
berwujud buku inventori dan ATP yang berwujud CD berisi program aplikasi
komputer (soft ware)
b.
Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1)
Untuk mengetahui tingkat
perekembangan peserta didik
2)
Membantu peserta didik yang
bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya.
c.
Identifikasi masalah
Dari uraian diatas dapat kita identifikasi masalah
sebagai berikut :
1)
Apakah tingkat perkembangan tiap
peserta didik berbeda?
2)
Bagaimana perbedaaan antara
tingkat perkembangan setiap peserta didik sesuai tugas perkembangannya?
d.
Metode Penelitian
Metode penelitian dilakukan dengan cara menyebar
angket ke beberapa siswa untuk menjawab
soal sejumlah 50 butir.
2.
Landasan Teori
Program
kegiatan, jenis layanan, dan isi bimbingan dan koseling dirumuskan atas dasar
kebutuhan nyata dan kondisi objektif perkembangan siswa. Kondisi objektif
perkembangan siswa yang dipahami melaui analisis tugas – tugas perkembangan
dapat menghasilkan profil perkembangan siswa yang menjadi dasar bagi pengembangan
program bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan yang didasarkan atas dan
berorientasi kepada pencapaian tugas – tugas perkembangan siswa dapat
menumbuhkan kesadaran guru pembimbing bahwa program dan layanan bimbingan dan
konseling dan konsseling disekolah mutlak harus berdasar kepada kebutuhan
siswa.
Robert
J. Havighurst (1961)[1] mengartikan tugas – tugas perkembangan itu merupakan
suatu hal yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu
yang apabila berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan ke
tugas perkembangan selanjutnya tapi jika gagal akan menyebabkan
ketidakbahagiaan pada individu yang bersangkutan dan kesulitan – kesulitan
dalam menuntaskan tugas berikutnya. Hurlock (1981)[2] menyebut tugas – tugas
perkembangan ini sebagai social expectations yang artinya setiap kelompok
budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan
memperoleh pola perilaku yang disetujui oleh berbagai usia sepanjang rentang
kehidupan.
Untuk
mengukur tingkat perkembangan siswa atau pencapaian tugas – tugas perkembangan
dari setiap aspek perkembangan, teori perkembangan diri dari Loevinger ( Lee
Knefelkamp et. al. 1978 dan Blocher, 1987) [3] dipilih sebagai kerangka kerja
teoretik dalam mengembangkan inventori tugas tugas perkembangan.
Penggunaan
model loevinger yang holistic cocok untuk mengukur perkembangan dalam budaya
pluralistic, sebab menekankan keterkaitan berbagai fase kehidupan manusia.
Model ini berkorelasi tinggi dengan model lain, seperti model Erickson,
Kohlberg, dan Perry (Lee Knefelkamp et. al. 1978) [4]
3.
Keterangan Tabel dan Gambar
Gambar 1. Contoh
data jawaban siswa

Gambar 2. Grafik
Analisis Kelompok

Gambar 3. Grafik
Analisis Individu

Gambar 4. Grafik
Distribusi Frekuensi Konsistensi

Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat
dari skor yang diperoleh pada setiap
aspek. Besar skor yang yang diperoleh
menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut ):
Tabel 1. Tingkat
SLTP (ITP SLTP)
|
Skor
|
Kode
|
Tingkat
Perkembangan siswa
|
|
2
|
PLD
|
Tahap PERLINDUNGAN DIRI
|
|
3
|
KOM
|
Tahap KONFORMITAS
|
|
4
|
SDI
|
Tahap SADAR DIRI
|
|
5
|
SAK
|
Tahap SAKSAMA
|
4.
Pembahasan
Salah satu
instrument yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta
didik adalah ITP (Invebtori Tugas Perkembangan). Dengan alat ITP, pembimbing
dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok, mengidentifikasi
maalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah
dalam menyelesaikan tugas perkembangannya.
Loevinger (Lee
Knefelkamp, et. al. 1978)[1] merumuskan bangun perkembangan diri kedalam sembilan
tingkat. Tingkat pertama yaitu “pra-sosial” merupakan tingkatan di mana
individu belum mampu membedakan diri dengan lingkungan. Tingkatan terakhir,
yaitu tingkat integred, merupakan tingkat yang jarang dicapai oleh orang
kebanyakan. Oleh karena itu bangun tingkatan perkembangan dalam ITP ini terdiri
atas tujuh tingkatan dengan karakteristik sebagai berikut.:
1. Tingkat Impulsif (Imp), dengan ciri – ciri : menempatkan identitas diri
sebagai bagian yang terpisah dari orang lain. Pola perilaku menuntut dan
bergantung pada lingkungan sebagai sumber ganjaran dan hukuman, serta
berorientasi sekarang (tidak berorientasi pada masa lalu atau masa depan).
Individu tidak menempatkan diri sebagai faktor penyebab perilaku
2. Tingkat Perlindungan Diri (Pld), dengan ciri-ciri peduli terhadap kontrol
dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain.
Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedenostik (prinsip menyenangkan
diri).berpikir tidak logis dan steorotip. Cenderung melihat kehidupan sebagai
“zero-sum game”. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain dan lingkungan.
3. Tingkat Komformistik (Kom), dengan ciri-ciri:(1) peduli terhadap
penampilan diri dan penerimaan sosial, (2) cenderung berpikir steorotip dan
klise, (3) peduli akan terhadap aturan eksternal, (4) bertindak dengan motif
dangkal (untuk memperoleh pujian), (5) menyamakan diri dalam ekspresi emosi,
(6) kurang intropeksi, (7) perbedaan kelompok didasarkan atas ciri-ciri
eksternal, (8) takut tidak diterma kelompok, (9) tidak sensitive terhadap
keindividualan, dan (10) merasa berdosa bila melanggar aturan.
4. Tingkat Sadar Diri (Sdi), dengan ciri-ciri:(1) mampu berpikir
alternative, (2) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situsi, (3)
peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada, (4) orientasi
pemecahan masalah, (5) memikirkan cara hidup, serta (6) penyesuaian terhadap
situasi dan peranan.
5. Tahap Saksama (Sak), dengan ciri-ciri: (1) bertindak atas dasar nilai
internal, (2) mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan,
(3) mampu melihat keragaman emosi, motif, dan perspektif diri, (4) peduli akan
hubungan mutualistik, (5) memiliki tujuan jangka panjang, (6) cenderung melihat
peristiwa dalam konteks sosial, (7) berpikir lebih kompleks dan atas dasar
analisis.
Ada 10 aspek
perkembangan pada siswa Sd dan SLTP, serta 11 aspek pada siswa SLTA dan PT.
Aspek-aspek yang diungkap berdasarkan permasalahan dan kebutuhan akan
perkembangan siswa yang dihadapi dalam proses pendidikan sekolah. Walaupun
aspek-aspek itu bersinggungan dengan teori Havighurst [2], temuan ini sudah
lebih banyak muatan empirik sesuai kondisi Indonesia.
Sepuluh aspek perkembangan Siswa SLTP
adalah sebagai berikut :
1.
Landasan hidup religius
1.1.
Sholat dan berdoa
1.2.
Belajar agama
1.3.
Keimanan
1.4.
Sabar
2.
Landasan perilaku etis
2.1.
Jujur
2.2.
Hormat kepada orang tua
2.3.
Sikap sopan dan santun
2.4.
Ketertiban dan kepatuhan
3.
Kematangan emosional
3.1.
Kebebasan dalam mengemukakan
pendapat
3.2.
Tidak cemas
3.3.
Pengendalian emosi
3.4.
Kemampuan menjaga stabilitas
emosi
4.
Kematangan intelektual
4.1.
Sikap kritis
4.2.
Sikap rasional
4.3.
Kemampuan membela hak pribadi
4.4.
Kemampuan menilai
5.
Kesadaran tanggung jawab
5.1.
Mawas diri
5.2.
Tanggung jawab atas tindakan
pribadi
5.3.
Partisipasi pada lingkungan
5.4.
Disiplin
6.
Peran sosial sebagai pria atau
wanita
6.1 Perbedaan pokok laki-laki dan perempuan
6.2 Peran sosial sesuai jenis kelamin
6.3 Tingkah laku dan kegiatan sesuai jenis kelamin
6.4 Cita-cita sesuai jenis kelamin
7.
Penerimaan diri dan
pengembangannya
7.1 Kondisi fisik
7.2 Kondisi mental
7.3 Pengembangan cita-cita
7.4 Pengembangan pribadi
8.
Kemandirian perilaku ekonomis
8.1 Upaya menghasilkan uang
8.2 Sikap hemat dan menabung
8.3 Bekerja keras dan ulet
8.4 Tidak mengharap pemberian uang
9.
Wawasan persiapan karir
9.1 Pemahaman jenis pekerjaan
9.2 Kesungguhan belajar
9.3 Upaya meningkatkan keahlian
9.4 Perencaan karir
10.
Kemampuan hubungan dengan teman
sebaya
10.1Pemahaman tingkah laku orang lain
10.2Kemampuan berempati
10.3Kerja sama
10.4Kemampuan hubungan sosial
5.
Penutup
Dengan ATP, lembar jawaban siswa terhadap ITP dapat diolah,
dianalisis dan ditampilkan dengan cepat, akurat, lengkap, dan menarik. Sehingga
mempermudah kita sebagai guru konselor dalam menganalisa tingkat perkembangan
masing-masing individu peserta didik kita, dan dapat segera memberikan bantuan
pemecahan masalah yang tepat bagi
peserta didik yang mengalami permasalahan dalam tugas perkembannya.
Daftar Pustaka:
|
[1]
|
Havighurt, Robert,
J, 1961, Human Development and Education, New York, Longmans Green
and Co.
|
|
[2]
|
Hurlock,
Elizabeth B., 1980. Development
Psychology A Life-Span Approach, New
York, McGraw-Hill, Inc,
|
|
[3] [4]
|
Lee,
Knefelkamp, et,al, 1978, Jane Lovinger’s Milestones of Development in New
Direction for Student service, 4, 19
|
|
|
|