Senin, 23 Juni 2014

PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM MEMBANTU MENGANALISA TINGKAT PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK TINGKAT SLTP

PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM MEMBANTU MENGANALISA TINGKAT PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK TINGKAT SLTP
Khamim Syafrul Hidayah Aminuddin                      12.0301.0029
Program Studi Bimbingan Konseling, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Kependidikan,
Universitas Muhammadiyah Magelang

Syaf_raul@ymail.com

 

Abstrak
PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM MEMBANTU MENGANALISA TINGKAT PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK. Program khusus Analisa Tugas Perkembangan (ATP) adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu mengolah ITP. Dengan ATP, identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah, cepat dan menyenangkan.
Kata kunci:
ITP, Inventori Tugas Perkembangan (buku soal digunakan untuk mengukur tahap perkembangan siswa)
ATP, Analisi Tugas Perkembangan (program komputer dalam CD yang dapat di-instal dan digunakan dikomputer untuk mengolah ITP)
 



1.         Pendahuluan
a.       Latar Belakang

Teknologi informasi dan  komunikasi telah dimanfaatkan hampir disemua bidang. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tersebut tentu sangat menguntungkan bagi kita. Begitu juga sebagai seorang konselor tentu kita membutuhkan informasi aktual dan akurat. Selain itu sebagai konselor kita bisa memanfaatkan teknologi utamanya komputer dalam membantu untuk menganalisa tingkat perkembangan peserta didik.

Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi.

Salah satu instrument yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP ( Inventori Tugas Perkembangan). Dengan  alat ITP, pembimbing dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok, mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. Proses penyekoran dan pengolahan ITP dapat dilakukan langsung (tanpa komputer) dengan bantuan kunci jawaban terlampir. Tentu saja memakan waktu cukup lama dan memerlukan ketelitian serta ketekunan pemeriksa.
Bersamaan dengan penyusunan ITP  telah dikembangkan pula program komputer khusus yang diberi nama ATP (Analisis Tugas Perkembangan). Program ini digunakan untuk menyekor, mengolah, dan mencetak hasil analisi ITP, baik dalam bentuk angka grafik, maupun daftar. Dengan demikian telah tersedia ITP yang berwujud buku inventori dan ATP yang berwujud CD berisi program aplikasi komputer (soft ware)

b.       Tujuan
Tujuan dari pembuatan  makalah ini adalah :
1)       Untuk mengetahui tingkat perekembangan peserta didik
2)       Membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya.
c.        Identifikasi masalah
Dari uraian diatas dapat kita identifikasi masalah sebagai berikut :
1)       Apakah tingkat perkembangan tiap peserta didik berbeda?
2)       Bagaimana perbedaaan antara tingkat perkembangan setiap peserta didik sesuai tugas perkembangannya?
d.       Metode Penelitian
Metode penelitian dilakukan dengan cara menyebar angket  ke beberapa siswa untuk menjawab soal sejumlah 50 butir.

2.         Landasan Teori

Program kegiatan, jenis layanan, dan isi bimbingan dan koseling dirumuskan atas dasar kebutuhan nyata dan kondisi objektif perkembangan siswa. Kondisi objektif perkembangan siswa yang dipahami melaui analisis tugas – tugas perkembangan dapat menghasilkan profil perkembangan siswa yang menjadi dasar bagi pengembangan program bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan yang didasarkan atas dan berorientasi kepada pencapaian tugas – tugas perkembangan siswa dapat menumbuhkan kesadaran guru pembimbing bahwa program dan layanan bimbingan dan konseling dan konsseling disekolah mutlak harus berdasar kepada kebutuhan siswa.
Robert J. Havighurst (1961)[1] mengartikan tugas – tugas perkembangan itu merupakan suatu hal yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu yang apabila berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan ke tugas perkembangan selanjutnya tapi jika gagal akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada individu yang bersangkutan dan kesulitan – kesulitan dalam menuntaskan tugas berikutnya. Hurlock (1981)[2] menyebut tugas – tugas perkembangan ini sebagai social expectations yang artinya setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui oleh berbagai usia sepanjang rentang kehidupan.
Untuk mengukur tingkat perkembangan siswa atau pencapaian tugas – tugas perkembangan dari setiap aspek perkembangan, teori perkembangan diri dari Loevinger ( Lee Knefelkamp et. al. 1978 dan Blocher, 1987) [3] dipilih sebagai kerangka kerja teoretik dalam mengembangkan inventori tugas tugas perkembangan.
Penggunaan model loevinger yang holistic cocok untuk mengukur perkembangan dalam budaya pluralistic, sebab menekankan keterkaitan berbagai fase kehidupan manusia. Model ini berkorelasi tinggi dengan model lain, seperti model Erickson, Kohlberg, dan Perry (Lee Knefelkamp et. al. 1978) [4]

3.         Keterangan Tabel dan Gambar

Gambar 1. Contoh data jawaban siswa











Gambar 2. Grafik Analisis Kelompok










Gambar 3. Grafik Analisis Individu












Gambar 4. Grafik Distribusi Frekuensi Konsistensi











Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor  yang diperoleh pada setiap aspek. Besar skor  yang yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut ):

Tabel 1. Tingkat SLTP (ITP SLTP)
Skor
Kode
Tingkat Perkembangan siswa
2
PLD
Tahap PERLINDUNGAN DIRI
3
KOM
Tahap KONFORMITAS
4
SDI
Tahap SADAR DIRI
5
SAK
Tahap SAKSAMA


4.       Pembahasan

Salah satu instrument yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Invebtori Tugas Perkembangan). Dengan alat ITP, pembimbing dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok, mengidentifikasi maalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya.
Loevinger (Lee Knefelkamp, et. al. 1978)[1] merumuskan bangun perkembangan diri kedalam  sembilan  tingkat. Tingkat pertama yaitu “pra-sosial” merupakan tingkatan di mana individu belum mampu membedakan diri dengan lingkungan. Tingkatan terakhir, yaitu tingkat integred, merupakan tingkat yang jarang dicapai oleh orang kebanyakan. Oleh karena itu bangun tingkatan perkembangan dalam ITP ini terdiri atas tujuh tingkatan dengan karakteristik sebagai berikut.:
1.       Tingkat Impulsif (Imp), dengan ciri – ciri : menempatkan identitas diri sebagai bagian yang terpisah dari orang lain. Pola perilaku menuntut dan bergantung pada lingkungan sebagai sumber ganjaran dan hukuman, serta berorientasi sekarang (tidak berorientasi pada masa lalu atau masa depan). Individu tidak menempatkan diri sebagai faktor penyebab perilaku
2.       Tingkat Perlindungan Diri (Pld), dengan ciri-ciri peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedenostik (prinsip menyenangkan diri).berpikir tidak logis dan steorotip. Cenderung melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain dan lingkungan.


3.       Tingkat Komformistik (Kom), dengan ciri-ciri:(1) peduli terhadap penampilan diri dan penerimaan sosial, (2) cenderung berpikir steorotip dan klise, (3) peduli akan terhadap aturan eksternal, (4) bertindak dengan motif dangkal (untuk memperoleh pujian), (5) menyamakan diri dalam ekspresi emosi, (6) kurang intropeksi, (7) perbedaan kelompok didasarkan atas ciri-ciri eksternal, (8) takut tidak diterma kelompok, (9) tidak sensitive terhadap keindividualan, dan (10) merasa berdosa bila melanggar aturan.
4.       Tingkat Sadar Diri (Sdi), dengan ciri-ciri:(1) mampu berpikir alternative, (2) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situsi, (3) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada, (4) orientasi pemecahan masalah, (5) memikirkan cara hidup, serta (6) penyesuaian terhadap situasi dan peranan.
5.       Tahap Saksama (Sak), dengan ciri-ciri: (1) bertindak atas dasar nilai internal, (2) mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan, (3) mampu melihat keragaman emosi, motif, dan perspektif diri, (4) peduli akan hubungan mutualistik, (5) memiliki tujuan jangka panjang, (6) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial, (7) berpikir lebih kompleks dan atas dasar analisis.
Ada 10 aspek perkembangan pada siswa Sd dan SLTP, serta 11 aspek pada siswa SLTA dan PT. Aspek-aspek yang diungkap berdasarkan permasalahan dan kebutuhan akan perkembangan siswa yang dihadapi dalam proses pendidikan sekolah. Walaupun aspek-aspek itu bersinggungan dengan teori Havighurst [2], temuan ini sudah lebih banyak muatan empirik sesuai kondisi Indonesia.
Sepuluh aspek perkembangan Siswa SLTP adalah sebagai berikut :


1.       Landasan hidup religius
1.1.     Sholat dan berdoa
1.2.     Belajar agama
1.3.     Keimanan
1.4.     Sabar
2.       Landasan perilaku etis
2.1.     Jujur
2.2.     Hormat kepada orang tua
2.3.     Sikap sopan dan santun
2.4.     Ketertiban dan kepatuhan
3.       Kematangan emosional
3.1.     Kebebasan dalam mengemukakan pendapat
3.2.     Tidak cemas
3.3.     Pengendalian emosi
3.4.     Kemampuan menjaga stabilitas emosi
4.       Kematangan intelektual
4.1.     Sikap kritis
4.2.     Sikap rasional
4.3.     Kemampuan membela hak pribadi
4.4.     Kemampuan menilai
5.       Kesadaran tanggung jawab
5.1.     Mawas diri
5.2.     Tanggung jawab atas tindakan pribadi
5.3.     Partisipasi pada lingkungan
5.4.     Disiplin

6.       Peran sosial sebagai pria atau wanita
6.1    Perbedaan pokok laki-laki dan perempuan
6.2    Peran sosial sesuai jenis kelamin
6.3    Tingkah laku dan kegiatan sesuai jenis kelamin
6.4    Cita-cita sesuai jenis kelamin
7.       Penerimaan diri dan pengembangannya
7.1    Kondisi fisik
7.2    Kondisi mental
7.3    Pengembangan cita-cita
7.4    Pengembangan pribadi
8.       Kemandirian perilaku ekonomis
8.1    Upaya menghasilkan uang
8.2    Sikap hemat dan menabung
8.3    Bekerja keras dan ulet
8.4    Tidak mengharap pemberian uang
9.       Wawasan persiapan karir
9.1    Pemahaman jenis pekerjaan
9.2    Kesungguhan belajar
9.3    Upaya meningkatkan keahlian
9.4    Perencaan karir
10.    Kemampuan hubungan dengan teman sebaya
10.1Pemahaman tingkah laku orang lain
10.2Kemampuan berempati
10.3Kerja sama
10.4Kemampuan hubungan sosial



5.       Penutup

Dengan ATP, lembar  jawaban siswa terhadap ITP dapat diolah, dianalisis dan ditampilkan dengan cepat, akurat, lengkap, dan menarik. Sehingga mempermudah kita sebagai guru konselor dalam menganalisa tingkat perkembangan masing-masing individu peserta didik kita, dan dapat segera memberikan bantuan pemecahan masalah  yang tepat bagi peserta didik yang mengalami permasalahan dalam tugas perkembannya.

Daftar Pustaka:

[1]
Havighurt, Robert, J, 1961, Human Development  and Education, New York, Longmans Green and  Co.
[2]
Hurlock, Elizabeth B., 1980. Development Psychology A Life-Span Approach, New York, McGraw-Hill, Inc,
[3] [4]
Lee, Knefelkamp, et,al, 1978, Jane Lovinger’s Milestones of Development in New Direction for Student service, 4, 19




Jumat, 20 Juni 2014

penggunaan teknologi informasi dalam pelaksanaan layanan bimbingan konseling



PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING              
Reny Rakhmadhani  (12.0301.0045)
Program Studi Bimbingan dan Konseling,Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Magelang

Abstrak
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan begitu juga dengan penggunaan aplikasi penggunaan TI yang semakin meluas di berbagai bidang yang salah satunya yaitu dalam bidang Bimbingan dan Konseling (BK). Bimbingan dan Konseling sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu, dilaksanakan melalui berbagai macam layanan. Layanan tersebut saat ini, pada saat jaman semakin berkembang, tidak hanya dapat dilakukan dengan tatap muka secara langsung, tapi juga bisa dengan memanfaatkan media atau teknologi informasi yang ada.  Layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya :
        Konseling melalui Telepon. Konseling melalui Radio dan televisi Konseling berbantuan komputer yaitu melalui internet.

Kata Kunci:  teknologi informasi, bimbingan dan konseling

1.       Pendahuluan

A.      Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi atau sering disebut ICT (Information and Communication Technology) menghadirkan tantangan baru bagi praktisi bimbingan dan konseling. Teknologi informasi dan komunikasi lebih cenderung pada eksploitasi peran dan fungsi dari Teknologi Komputer. Berbicara ICT berarti berbicara komputer baik pemanfaatannya, peran dan fungsinya dalam kehidupan. Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya relevansi yang harus dilakukan oleh para prkatisi Bimbingan dan Konseling untuk menjawab tantangan ini. Keterampilan konselor atau praktisi bimbingan dan konseling dalam menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, merupakan salah satu wujud profesionalitas kerja konselor dalam pelaksanaan program layanan.
Teknologi informasi dan komunikasi merupakan media dalam pelaksanaan program layanan bukan tujuan layanan, maka pemanfaatannya hanya sebagai media untuk melakukan pendekatan-pendekatan, pemberian informasi, promosi, konsultasi dan masih banyak lagi. Untuk hasil yang memuaskan maka konselor diharapkan dapat berperan sebagai operator dan memahami fungsi dan peran teknologi dalam pelaksanaan tugasnya. Dengan kegiatan training atau pelatihan baik personal maupun kolektif secara rutin diharapkan keterampilan-keretampilan tersebut dalam dipeoleh dalam waktu singkat.
.                                                                                                     
B.      Identifikasi Masalah
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengkaji penggunann dan pemanfaatan komputer berbasis internet dan elektronik sebagai media layanan bimbingan dan konseling..

C.       Manfaat
Adapun manfaat pembuatan makalah ini mengetahui penggunaan dan manfaat teknologi informasi dalam  bimbingan dan  konseling.

D.        Metode Penelitian
Pada makalah yang dibuat digunakan metode pustaka yaitu dengan menggunakan berbagai sumber yang ada pada buku dan internet.






2.       Teori-teori
Sejalan dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi berbasis komputer, sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. (Menurut Gausel; Prayitno, 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling pendidikan.[1]
(Moh. Surya, 2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet, dalam bentuk “cyber counseling”. Dikemukakan pula, bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling.. [2]
Hasil penelitian yang disusun oleh Nur Hidayah dan Triyono (2009) telah mengembangkan konseling kolaboratif berbasis ICT (Information and Communication Technology) dimana digunakan media ICT dengan dikolaborasikan model konseling yang telah ada untuk melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling. [3]

3.       Pembahasan
Pada penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Guru Bimbingan Konseling / Konselor di sekolah memberikan pelayanan berkaitan Pengembangan Diri, sesuai minat dan bakat serta mempertimbangkan tahapan tugas perkembangan peserta didik dalam lingkup usia Sekolah Menengah Atas (SMA), mengingat adanya keberagaman individu (individual deferencies). Selain itu, untuk membimbing peserta didik dalam menentukan pilihannya secara mandiri dan mampu mengambil keputusan
Melihat kebutuhan diatas maka Bimbingan dan Konseling dalam melakukan proses pelayanannya menggunakan berbagai pelayanan dengan berbagai pertimbangan melihat dari sudut kebutuhan konseli. Mengikuti perkembangan zaman maka dalam melakukan pelayanan atau proses konseling Bimbingan dan Konseling pun menggunakan sistem teknologi informasi dalam melakukan proses konseling, agar mempermudah komunikasi.
Dalam proses konseling dengan memanfaatkan teknologi informasi memiliki tujuan umum yaitu membantu konseli mencapai perkembangan yang optimal. Adapun tujuan yang lebih spesifik diantaranya adalah:
1.       untuk mempermudah konselor dalam melakukan proses bimbingan dan konseling
2.       memberikan alat bantu pada konselor untuk  melakukan investigasi dalam bakat, minat,pilihan karir yang ingin dicapai peserta didik.
3.       meningkatkan daya tarik peserta didik pada bimbingan dan konseling
4.        mempermudah akses siswa dalam memperoleh sumber informasi tentang bimbingan konseling.
Identifikasi layanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan dengan teknologi informasi. Layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya :
a.           Konseling melalui Telepon.
Konseling melalui telepon  biasanya disebut konseling telepon , Video-phone counseling (VPC) merupakan bentuk lain dari konseling telepon. Namun dalam penggunaan perangkat teknologi komunikasi tambahan yang memungkinkan konseli dan konselor saling mengenal dan “bertatap muka” melalui layar monitor (display), Konseling melalui video-phone lebih memungkinkan terjalinnya interaksi yang lebih baik antara konselor dan klien, dan dapat lebih mendekati karakteristik konseling tatap muka.

b.           Konseling melalui Radio dan televisi
Konseling melalui radio atau televisi,  masih merupakan bentuk lain dari konseling telepon. Pada konseling radio, percakapan antara konselor dan konseli dipancarkan. Konseling melalui radio dan televisi memungkinkan permasalahan konseli diketahui oleh umum, oleh karena itu kerahasiaan identitas konseli harus benar-benar menjadi perhatian Konseling melalui radio atau televisi dapat direalisasikan dengan menggunakan CMS (Content Management System), CMS secara umum dapat diartikan sebagai sebuah sistem yang memberikan kemudahan pada para pengunanya dalam mengelola dan melakukan perubahan isi sebuah website dinamis tanpa harus dibekali pengetahuan tentang hal-hal yang bersifat teknis.




c.            Konseling berbantuan komputer yaitu melalui internet.
Pelayanan konseling melalui fasilitas internet sudah dikenal dengan nama e-counseling                               ( email counseling) , Berikut ini adalah contoh proses konseling via internet :
1.       Email therapy
Email counseling merupakan proses terapeutik yang didalamnya terdapat kegiatan menulis selain ada kegiatan pertemuan secara langsung dengan konselor.  Email counseling merupakan satu cara untuk berkomunikasi antara konseli dengan konselor yang didalamnya dibahas mengenai masalah-masalah yang dihadapi koseli, misalnya masalah-masalah yang berkaitan dengan perkembangan kepribadian dan kehidupan konseli melalui surat atau tulisan pada internet.  Selain e-mail juga bisa dalam bentuk chatting dimana konselor secara langsung berkomunikasi dengan klien pada waktu yang sama melalui internet.

2.     Cyber counseling
Cyber counseling atau konseling maya merupakan penerapan teknologi ”jalan raya informasi” dengan memanfaatkan jasa teknologi itu seoptimal mungkin dengan tetap menjaga karakteristik konseling. Dengan demikian proses layanan bimbingan dan konseling dapat berlangsung lebih efektif dan efisian sejalan dengan tuntutan teknologi informasi dan komunikasi. Dalam implementasi cyber counseling dapat dilaksanakan melalui kegiatan antara lain:
a.       Marketing layanan konseling, yaitu sosialisasi layanan konseling maya kepada berbagai pihak dengan tujuan agar model konseling maya ini dapat diketahui secara meluas oleh publik. Caranya dapat melalui iklan, melalui internet, brosur, atau cara-cara lainnya.
b.       Penyampaian layanan konseling,yaitu kegiatan layanan proses dan penilaian konseling dengan menggunakan internet dalam berbagai lingkup layanan konseling seperti karir, pendidikan, pribadi, sosial, keluarga, dsb. Layanan konseling dapat berupa penyampaian informasi, pengumpulan data, penyelesaian berbagai masalah, dsb.
c.         Penyediaan  materi ”self-help”,yaitu berupa seperangkat materi yang dapat memberikan layanan sedemikian rupa sehingga klien dapat bertindak secara mandiri dengan dipandu oleh petunjuk dalam materi ”self-help”. Dalam kegiatan ini klien tinggal mengikuti petunjuk yang telah dikembangkan dan tersedia dalam internet.
d.       Supervisi dan riset,yaitu kegiatan untuk memberikan supervisi kepada konselor yang menggunakan internet untuk mengevaluasi langkah yang telah ditempuh serta pengembangan selanjutnya. Demikian pula cyber konseling dapat dilaksanakan dengan maksud mengadakan riset yang terkait dengan efektivitas kegiatan konseling dan pengembangan selanjutnya
Penyampaian layanan konseling dengan menggunakan jaringan jalan raya informasi (cyber counseling) memberikan manfaat dalam hal :
1.         Memberikan peluang klien untuk mengakses layanan dari lokasi terpencil
2.         Memperbaiki orientasi klien terhadap konseling.
3.         Membantu dalam melaksanakan penilaian dan tugas-tugas,
4.         Memperluas data dalam dokumen.
5.         Memberikan layanan alih tangan (referal).
6.         Memperluas akses untuk penilaian dan penafsiran hasil test.
7.         Meningkatkan peluang untuk supervisi dan konferensi kasus
8.          Menunjang pengumpulan data penelitian.

3.       E-counseling.
konseling online dapat dimaknai secara sederhana yaitu proses konseling yang dilakukan dengan alat bantu jaringan sebagai penghubung antara guru bk atau konselor dengan kliennya.
Syarat-syarat konselor dalam konseling online dan konseling biasa atau face to face tidak jauh berbeda sebagai berikut:
a.       Konselor harus mempunyai wawasan yang luas
b.        Konselor harus menguasai dan memahami teknologi yang digunakan sekarang ini..
c.         Latar belakang pendidikannya harus dari bimbingan dan konseling dan minimal tamatan strata satu yang memiliki ilmu bimbingan dan konseling dan harus memiliki
d.       Kepribadian konselor Seorang konselor harus mempunyai sifat yang baik ikhlas,   jujur,objektif,simpatik dan empati serta senantiasa menjunjung tinggi kode etik profesi.
e.        Konselor mampu memahami karakteristik klien
f.         Konselor harus bisa memguasai semua teknik-teknik dalam konseling


4.       Penutup
Dengan penggunaan Tekhnologi Informasi dan Komunikasi (TI) dalam layanan Bimbingan dan Konseling diharapkan dapat membantu dan memudahkan guru Bimbingan dan Konseling ataupun Konselor dalam melaksanakan tugas pokok yaitu profesionalnya dan fungsinya sebagai konselor baik dalam pendataan maupun dalam menangani masalah-masalah siswa
Terdapat layanan yang lebih mudah yaitu dengan cyber counseling yang memungkinkan konseli tidak merasa malu/canggung yang bisa dilakukan kapan dan dimana saja. Pemanfaatkan teknologi informasi di zaman kekinian menjadi sangat relevan ketika diterapkan dalam kegiatan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu, hal ini diharapkan menjadi efektif untuk membantu individu dalam perkembangannya secara optimal dan menyesuaikan dengan kemajuan zaman tanpa tergerus oleh pengaruh negatif dari kemajuan tersebut.

Daftar Pustaka
[1] Simarmata. 2006. Pengenalan Teknologi Komputer dan Informasi. Yogyakarta: Andi.