Senin, 23 Juni 2014

PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM MEMBANTU MENGANALISA TINGKAT PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK TINGKAT SLTP

PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM MEMBANTU MENGANALISA TINGKAT PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK TINGKAT SLTP
Khamim Syafrul Hidayah Aminuddin                      12.0301.0029
Program Studi Bimbingan Konseling, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Kependidikan,
Universitas Muhammadiyah Magelang

Syaf_raul@ymail.com

 

Abstrak
PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM MEMBANTU MENGANALISA TINGKAT PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK. Program khusus Analisa Tugas Perkembangan (ATP) adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu mengolah ITP. Dengan ATP, identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah, cepat dan menyenangkan.
Kata kunci:
ITP, Inventori Tugas Perkembangan (buku soal digunakan untuk mengukur tahap perkembangan siswa)
ATP, Analisi Tugas Perkembangan (program komputer dalam CD yang dapat di-instal dan digunakan dikomputer untuk mengolah ITP)
 



1.         Pendahuluan
a.       Latar Belakang

Teknologi informasi dan  komunikasi telah dimanfaatkan hampir disemua bidang. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tersebut tentu sangat menguntungkan bagi kita. Begitu juga sebagai seorang konselor tentu kita membutuhkan informasi aktual dan akurat. Selain itu sebagai konselor kita bisa memanfaatkan teknologi utamanya komputer dalam membantu untuk menganalisa tingkat perkembangan peserta didik.

Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi.

Salah satu instrument yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP ( Inventori Tugas Perkembangan). Dengan  alat ITP, pembimbing dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok, mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. Proses penyekoran dan pengolahan ITP dapat dilakukan langsung (tanpa komputer) dengan bantuan kunci jawaban terlampir. Tentu saja memakan waktu cukup lama dan memerlukan ketelitian serta ketekunan pemeriksa.
Bersamaan dengan penyusunan ITP  telah dikembangkan pula program komputer khusus yang diberi nama ATP (Analisis Tugas Perkembangan). Program ini digunakan untuk menyekor, mengolah, dan mencetak hasil analisi ITP, baik dalam bentuk angka grafik, maupun daftar. Dengan demikian telah tersedia ITP yang berwujud buku inventori dan ATP yang berwujud CD berisi program aplikasi komputer (soft ware)

b.       Tujuan
Tujuan dari pembuatan  makalah ini adalah :
1)       Untuk mengetahui tingkat perekembangan peserta didik
2)       Membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya.
c.        Identifikasi masalah
Dari uraian diatas dapat kita identifikasi masalah sebagai berikut :
1)       Apakah tingkat perkembangan tiap peserta didik berbeda?
2)       Bagaimana perbedaaan antara tingkat perkembangan setiap peserta didik sesuai tugas perkembangannya?
d.       Metode Penelitian
Metode penelitian dilakukan dengan cara menyebar angket  ke beberapa siswa untuk menjawab soal sejumlah 50 butir.

2.         Landasan Teori

Program kegiatan, jenis layanan, dan isi bimbingan dan koseling dirumuskan atas dasar kebutuhan nyata dan kondisi objektif perkembangan siswa. Kondisi objektif perkembangan siswa yang dipahami melaui analisis tugas – tugas perkembangan dapat menghasilkan profil perkembangan siswa yang menjadi dasar bagi pengembangan program bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan yang didasarkan atas dan berorientasi kepada pencapaian tugas – tugas perkembangan siswa dapat menumbuhkan kesadaran guru pembimbing bahwa program dan layanan bimbingan dan konseling dan konsseling disekolah mutlak harus berdasar kepada kebutuhan siswa.
Robert J. Havighurst (1961)[1] mengartikan tugas – tugas perkembangan itu merupakan suatu hal yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu yang apabila berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan ke tugas perkembangan selanjutnya tapi jika gagal akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada individu yang bersangkutan dan kesulitan – kesulitan dalam menuntaskan tugas berikutnya. Hurlock (1981)[2] menyebut tugas – tugas perkembangan ini sebagai social expectations yang artinya setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui oleh berbagai usia sepanjang rentang kehidupan.
Untuk mengukur tingkat perkembangan siswa atau pencapaian tugas – tugas perkembangan dari setiap aspek perkembangan, teori perkembangan diri dari Loevinger ( Lee Knefelkamp et. al. 1978 dan Blocher, 1987) [3] dipilih sebagai kerangka kerja teoretik dalam mengembangkan inventori tugas tugas perkembangan.
Penggunaan model loevinger yang holistic cocok untuk mengukur perkembangan dalam budaya pluralistic, sebab menekankan keterkaitan berbagai fase kehidupan manusia. Model ini berkorelasi tinggi dengan model lain, seperti model Erickson, Kohlberg, dan Perry (Lee Knefelkamp et. al. 1978) [4]

3.         Keterangan Tabel dan Gambar

Gambar 1. Contoh data jawaban siswa











Gambar 2. Grafik Analisis Kelompok










Gambar 3. Grafik Analisis Individu












Gambar 4. Grafik Distribusi Frekuensi Konsistensi











Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor  yang diperoleh pada setiap aspek. Besar skor  yang yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut ):

Tabel 1. Tingkat SLTP (ITP SLTP)
Skor
Kode
Tingkat Perkembangan siswa
2
PLD
Tahap PERLINDUNGAN DIRI
3
KOM
Tahap KONFORMITAS
4
SDI
Tahap SADAR DIRI
5
SAK
Tahap SAKSAMA


4.       Pembahasan

Salah satu instrument yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Invebtori Tugas Perkembangan). Dengan alat ITP, pembimbing dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok, mengidentifikasi maalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya.
Loevinger (Lee Knefelkamp, et. al. 1978)[1] merumuskan bangun perkembangan diri kedalam  sembilan  tingkat. Tingkat pertama yaitu “pra-sosial” merupakan tingkatan di mana individu belum mampu membedakan diri dengan lingkungan. Tingkatan terakhir, yaitu tingkat integred, merupakan tingkat yang jarang dicapai oleh orang kebanyakan. Oleh karena itu bangun tingkatan perkembangan dalam ITP ini terdiri atas tujuh tingkatan dengan karakteristik sebagai berikut.:
1.       Tingkat Impulsif (Imp), dengan ciri – ciri : menempatkan identitas diri sebagai bagian yang terpisah dari orang lain. Pola perilaku menuntut dan bergantung pada lingkungan sebagai sumber ganjaran dan hukuman, serta berorientasi sekarang (tidak berorientasi pada masa lalu atau masa depan). Individu tidak menempatkan diri sebagai faktor penyebab perilaku
2.       Tingkat Perlindungan Diri (Pld), dengan ciri-ciri peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. Mengikuti aturan secara oportunistik dan hedenostik (prinsip menyenangkan diri).berpikir tidak logis dan steorotip. Cenderung melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. Cenderung menyalahkan dan mencela orang lain dan lingkungan.


3.       Tingkat Komformistik (Kom), dengan ciri-ciri:(1) peduli terhadap penampilan diri dan penerimaan sosial, (2) cenderung berpikir steorotip dan klise, (3) peduli akan terhadap aturan eksternal, (4) bertindak dengan motif dangkal (untuk memperoleh pujian), (5) menyamakan diri dalam ekspresi emosi, (6) kurang intropeksi, (7) perbedaan kelompok didasarkan atas ciri-ciri eksternal, (8) takut tidak diterma kelompok, (9) tidak sensitive terhadap keindividualan, dan (10) merasa berdosa bila melanggar aturan.
4.       Tingkat Sadar Diri (Sdi), dengan ciri-ciri:(1) mampu berpikir alternative, (2) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situsi, (3) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada, (4) orientasi pemecahan masalah, (5) memikirkan cara hidup, serta (6) penyesuaian terhadap situasi dan peranan.
5.       Tahap Saksama (Sak), dengan ciri-ciri: (1) bertindak atas dasar nilai internal, (2) mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan, (3) mampu melihat keragaman emosi, motif, dan perspektif diri, (4) peduli akan hubungan mutualistik, (5) memiliki tujuan jangka panjang, (6) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial, (7) berpikir lebih kompleks dan atas dasar analisis.
Ada 10 aspek perkembangan pada siswa Sd dan SLTP, serta 11 aspek pada siswa SLTA dan PT. Aspek-aspek yang diungkap berdasarkan permasalahan dan kebutuhan akan perkembangan siswa yang dihadapi dalam proses pendidikan sekolah. Walaupun aspek-aspek itu bersinggungan dengan teori Havighurst [2], temuan ini sudah lebih banyak muatan empirik sesuai kondisi Indonesia.
Sepuluh aspek perkembangan Siswa SLTP adalah sebagai berikut :


1.       Landasan hidup religius
1.1.     Sholat dan berdoa
1.2.     Belajar agama
1.3.     Keimanan
1.4.     Sabar
2.       Landasan perilaku etis
2.1.     Jujur
2.2.     Hormat kepada orang tua
2.3.     Sikap sopan dan santun
2.4.     Ketertiban dan kepatuhan
3.       Kematangan emosional
3.1.     Kebebasan dalam mengemukakan pendapat
3.2.     Tidak cemas
3.3.     Pengendalian emosi
3.4.     Kemampuan menjaga stabilitas emosi
4.       Kematangan intelektual
4.1.     Sikap kritis
4.2.     Sikap rasional
4.3.     Kemampuan membela hak pribadi
4.4.     Kemampuan menilai
5.       Kesadaran tanggung jawab
5.1.     Mawas diri
5.2.     Tanggung jawab atas tindakan pribadi
5.3.     Partisipasi pada lingkungan
5.4.     Disiplin

6.       Peran sosial sebagai pria atau wanita
6.1    Perbedaan pokok laki-laki dan perempuan
6.2    Peran sosial sesuai jenis kelamin
6.3    Tingkah laku dan kegiatan sesuai jenis kelamin
6.4    Cita-cita sesuai jenis kelamin
7.       Penerimaan diri dan pengembangannya
7.1    Kondisi fisik
7.2    Kondisi mental
7.3    Pengembangan cita-cita
7.4    Pengembangan pribadi
8.       Kemandirian perilaku ekonomis
8.1    Upaya menghasilkan uang
8.2    Sikap hemat dan menabung
8.3    Bekerja keras dan ulet
8.4    Tidak mengharap pemberian uang
9.       Wawasan persiapan karir
9.1    Pemahaman jenis pekerjaan
9.2    Kesungguhan belajar
9.3    Upaya meningkatkan keahlian
9.4    Perencaan karir
10.    Kemampuan hubungan dengan teman sebaya
10.1Pemahaman tingkah laku orang lain
10.2Kemampuan berempati
10.3Kerja sama
10.4Kemampuan hubungan sosial



5.       Penutup

Dengan ATP, lembar  jawaban siswa terhadap ITP dapat diolah, dianalisis dan ditampilkan dengan cepat, akurat, lengkap, dan menarik. Sehingga mempermudah kita sebagai guru konselor dalam menganalisa tingkat perkembangan masing-masing individu peserta didik kita, dan dapat segera memberikan bantuan pemecahan masalah  yang tepat bagi peserta didik yang mengalami permasalahan dalam tugas perkembannya.

Daftar Pustaka:

[1]
Havighurt, Robert, J, 1961, Human Development  and Education, New York, Longmans Green and  Co.
[2]
Hurlock, Elizabeth B., 1980. Development Psychology A Life-Span Approach, New York, McGraw-Hill, Inc,
[3] [4]
Lee, Knefelkamp, et,al, 1978, Jane Lovinger’s Milestones of Development in New Direction for Student service, 4, 19




Tidak ada komentar:

Posting Komentar